|
Pasar Kecewa, Rupiah Anjlok Lagi |
|
|
|
dari TEMPO Interaktif, Jakarta:Analis pasar uang dari Currency Management Group, Farial Anwar menilai kembali anjloknya nilai tukar rupiah hari ini disebabkan pidato presiden yang tidak konkret untuk menyelesaikan masalah. "Pasar kecewa dengan pidato yang hanya bersifat normatif dan wacana,"ujarnya, Kamis (1/9) di Jakarta. Hari ini nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif hingga pernah satu saat menyentuh level Rp 10.800 per dolar AS. Rupiah pun ditutup pada level Rp 10.300 per dolar AS pada perdagangan sore hari, atau melemah daripada level sehari sebelumnya yakni Rp 10.180 per dolar AS. Pasar valas, menurut Farial, sebetulnya sudah sangat menunggu pidato presiden menyoal program jangka pendek menanggapi kemerosotan nilai rupiah yang terjadi belakangan. Misalnya kepastian kapan dan besaran kenaikan bahan bakar minyak (BBM), pergantian tim ekonomi dalam kabinet, dan bentuk pemasukan dolar dalam pasar valas.
Waktu kenaikan BBM yang dijelaskan presiden kemarin (31/8) yakni setelah realisasi kompensasi BBM dan perumusan paket kompensasi bagi rakyat miskin sama sekali tidak memberi kejelasan bagi pasar. "Pasar sudah menilai kompensasi tidak akan efektif. Ditambah lagi pernyataan kenaikan BBM yang disebut sebagai jawaban untuk menguatkan rupiah yang sama sekali tidak masuk akal,"kata Farial. Farial menilai komitmen presiden untuk merombak kabinet setahun pemerintahannya telah menjatuhkan kredibilitas presiden. "Pasar selain sudah melihat tim ekonomi yang tidak solid ataupun fokus, ditambah lagi adanya pertentangan dua kekuatan yang ada di pemerintahan, memicu krisis kepercayaan. Jika tidak segera dilakukan perombakan kabinet, bisa-bisa presiden yang turun kredibilitasnya,"ujarnya. Kalaupun ada penguatan rupiah beberapa waktu lalu, Farial menilai, semata-mata karena penilaian positif dari pelaku pasar akan kebijakan Bank Indonesia. "Walaupun kebijakan BI sebetulnya terlambat, tapi pasar melihat adanya usaha. Kini giliran pemerintah mengajukan kebijakan tentang fiskal untuk mengatasi masalah rupiah,"katanya. Pada pekan depan, ia memprediksi rupiah akan tetap terdepresiasi karena masalah utama belum dipecahkan pemerintah. "Permintaan valas tetap akan tinggi, sedangkan pasokan sangat terbatas,"ujar Farial. Farial memperkirakan rupiah melemah pekan depan maksimal pada level Rp 12.000 per dolar AS. "Karena belakangan pelaku pasar ataupun spekulan terlihat hati-hati jika ingin membeli per dolar AS di atas Rp 12.000,"katanya |